Caka Group · Master Plan Sistem Digital

Satu Sistem untuk Semua Titik

Cau Coklat punya ratusan titik penjualan di seluruh Indonesia, tapi belum ada satu sistem yang bisa membacanya secara real time. Dokumen ini merangkum hasil diskusi antara Bli Surya dan tim digital menjadi satu peta utuh, mulai dari empat masalah inti, konteks seluruh keluarga bisnis, sampai ke peta website dan lapisan AI yang menyatukannya.

Disusun untuk
Bli Surya & Tim Direksi Caka Group
Cakupan
Cau Coklat, Cocoland, DCB (Desa Coklat Bali), Caulicious
Status
Draf untuk pembahasan lanjutan
Bli Surya membuka masalah dengan cara paling sederhana, lewat neraca. Sisi hutang dan modal jelas dan tidak bermasalah. Masalahnya ada di sisi aset, lebih spesifik di dua pos di dalamnya. Dua masalah lain berada di luar neraca sama sekali.
ASET
Stok
200an titik gudang, termasuk konsinyasi
Aset Tetap
Tidak ada tracking posisi dan penanggung jawab
DI SINILAH DUA MASALAH UTAMA BERADA
"Permasalahan kita di sini sama sekali tidak ada masalah, masalah utama kita di stok, yang kedua di aset." (Bli Surya)
HUTANG
Update setiap hari, tidak ada masalah
MODAL / KAS
Mudah dipantau lewat bank, tidak ada masalah
Di luar neraca, dua masalah lagi
SDM
Belum ada sistem penghargaan karyawan yang transparan
Data Marketing
Omzet per titik belum terbaca real time
Bagian 01

Empat Titik Masalah, Dibedah Satu per Satu

Ini bukan empat proyek terpisah. Ini empat gejala dari masalah yang sama, data yang ada tapi tidak terbaca secara real time. Tiap kartu di bawah memetakan kondisi sekarang, kasus nyata yang sudah terjadi, target sistemnya, dan siapa yang memegang area ini.

01

SDM

PIC · Bagus
Kondisi Sekarang

Belum ada sistem transparan untuk menentukan hak karyawan berdasarkan masa kerja dan pendidikan. Model UMK baru saja diterapkan, probation diberi 80% UMK sesuai lokasi, setelah lolos langsung UMK penuh. Masalahnya, karyawan dengan masa kerja panjang sempat berjalan tanpa UMK sebelum aturan ini berlaku.

Target Sistem

Web atau app self service per karyawan dengan login sesuai peran. Staf biasa bisa lihat biodata, status kepegawaian, download slip gaji, ajukan cuti, dan ajukan kasbon, semua lewat HP. Bisa mulai dari web app dulu sebelum jadi aplikasi native. HR punya dashboard sendiri untuk menyetujui semua pengajuan itu.

Masih perlu disepakati Metode absensi belum final, antara selfie di lokasi atau sidik jari. Selfie boros penyimpanan kalau diterapkan untuk seluruh staf, sidik jari sudah berjalan sekarang dan lebih cocok untuk tim lapangan yang perlu dipastikan benar hadir di titik.
02

Stok

PIC · Arya, Kepala Gudang
Kondisi Sekarang

Dua gudang biji kakao di utara dan selatan. Begitu biji masuk produksi, setiap ruangan pabrik otomatis jadi gudang baru, biji menjadi nibs, lalu powder, dan turunan lainnya. Total titik gudang termasuk konsinyasi bisa mencapai sekitar 200. Dari sekitar 700 SKU (jenis produk berbeda yang dihitung terpisah), manajer gudang menyampling 50 produk per hari secara bergilir, satu siklus penuh makan waktu sebulan, dan hasilnya tetap berbeda dari sistem.

Target Sistem

Tracking per checkpoint, mulai dari gudang biji, lewat tiap tahap produksi, sampai gudang bahan baku lain seperti gula. Toko non konsinyasi bisa real time. Toko konsinyasi mengikuti siklus laporan di PKS (Perjanjian Kerja Sama) masing masing, umumnya tanggal 15 tiap bulan, jadi keputusan untuk jenis toko ini memang tidak bisa real time dan itu perlu disadari sejak awal, bukan dianggap kegagalan sistem.

Langkah berikutnya Diperlukan kunjungan langsung ke gudang dan ngobrol dengan staf terkait untuk memetakan checkpoint secara presisi sebelum sistem ini bisa dirancang teknisnya.
03

Aset Tetap

PIC · Wayan
Kondisi Sekarang

Belum ada cara mengetahui produktivitas tiap aset yang dibeli, di mana posisinya, dan siapa yang sebenarnya bertanggung jawab memegangnya. Sebagian aset bahkan tidak tercatat di neraca karena langsung masuk sebagai biaya saat dibeli.

Target Sistem

Kabar baiknya, data dan parameter aset sudah ada dan jelas, tersimpan di Excel. Pekerjaannya lebih ke memindahkan data itu ke dashboard, bukan merancang dari nol. Tiap aset diklasifikasi dalam delapan parameter dari kombinasi ada atau tidak ada di neraca, kondisi baik atau tidak baik, dan digunakan atau tidak digunakan. Barcode dan titik lokasi lewat koordinat menyusul di tahap berikutnya.

Aturan internal yang harus diikuti sistem Tidak ada pinjam meminjam aset lintas perusahaan, semua harus beli. Untuk aset yang sudah tidak terpakai, berlaku lelang internal berjenjang, ditawarkan dulu ke staf, lalu ke perusahaan lain dalam grup (Cocoland, DCB, Caulicious, Caka Central), baru dilelang keluar kalau tetap tidak ada yang mau.
04

Data Marketing & Omzet

PIC · Nyoman & Gede Dika
Kondisi Sekarang

Laporan omzet masih ditarik manual satu per satu dari Jurnal, sehingga penyebab penurunan baru ketahuan jauh setelah kejadian. Produktivitas per orang marketing, per SPG, dan per toko dari ratusan titik yang ada juga belum bisa diukur.

Target Sistem

Dashboard yang langsung menjawab pertanyaan sederhana, omzet sampai bulan ini berapa, dibanding tahun lalu naik atau turun, toko mana yang turun, dan barang apa yang turun. Lengkap dengan peta titik penjualan konsinyasi dan daftar produk paling laris sampai paling kurang laku di tiap toko, datanya diimpor admin dari database mitra konsinyasi. Untuk toko yang dikuasai langsung seperti DCB dan Cocoland bisa real time, toko konsinyasi tetap mengikuti siklus laporan PKS.

Kasus nyata Penurunan omzet duty free sempat tidak terjawab selama enam bulan. Ternyata bukan karena penjualan turun, tapi karena barang habis saat PO masuk, masalahnya ada di pabrik, bukan di toko. Tanpa data real time, keputusan baru bisa diambil jauh setelah kerugian terjadi.
Lapisan Tambahan

Dashboard Eksekutif, ROI per Channel

Untuk CEO & Direksi

Melengkapi data omzet per toko di atas, lapisan ini mengukur efisiensi tiap channel penjualan digital. Data dari Shopee, TikTok, dan Meta, mulai dari biaya iklan, total omzet, ROI (perbandingan hasil dibanding biaya yang dikeluarkan), performa live, sampai data afiliator, diimpor admin ke satu dashboard berbasis web, sehingga eksekutif langsung tahu channel mana yang paling efisien.

Contoh kasus Untuk Caulicious di channel Shopee, dashboard ini menunjukkan langsung kapan harus menambah budget dan kapan harus menahannya, per titik channel penjualan, bukan menunggu laporan bulanan untuk tahu channel mana yang sebenarnya paling layak diperbesar.
Bagian 02

Bukan Cuma Cau Coklat

Pola masalah yang sama ternyata berulang di seluruh keluarga bisnis. Bedanya cuma di model dan target pasar. Begitu sistem untuk Cau Coklat selesai, pola yang sama tinggal disesuaikan tampilan depannya untuk brand lain.

BrandModel BisnisHook UtamaTarget Pasar
Cau Coklat Manufaktur dan distribusi B2B, hampir tanpa toko sendiri. Rencananya seluruh toko pindah ke DCB tahun depan. Produk inti yang memasok tiga brand turunan B2B nasional dan ekspor
Cocoland (CLB) Toko oleh oleh dengan area aktivitas. Yang dijual duluan tokonya, baru bayar untuk aktivitas dan makan. Resto dikelola vendor dengan fee 20%. Toko, makan jadi pelengkap Rombongan sekolah dari Jawa, menengah ke bawah
DCB, Desa Coklat Bali Edukasi premium dengan restoran dan toko berjalan bersamaan, resto dikelola sendiri. Yang dijual duluan aktivitasnya, baru restoran. Aktivitas premium, resto jadi pelengkap FIT atau individu, grup kecil, sekolah internasional
Caulicious Toko ritel coklat artisan, fokus jualan di toko fisik. Online lewat Shopee, Grab, dan Gojek untuk pengiriman. Juga menjual dark chocolate dan butter Cau Coklat secara retail. Retail artisan di toko, online jadi pelengkap Konsumen ritel pencinta coklat artisan
Di luar brand brand ini, ada jaringan agen offline yang masuk sistem yang sama, yaitu travel agent, PO bus (mewakili sopir), dan komisariat (mewakili guide atau tour leader). Ketiganya dikelola sebagai afiliator dengan persentase komisi lewat sistem booking dan pembayaran yang dijelaskan di Bagian 03, dengan produktivitas yang diukur untuk program penghargaan akhir tahun.
Bagian 03

Arsitektur Sistem

Tiap unit bisnis tetap punya website sendiri, datanya ditarik lewat API (jalur otomatis pertukaran data antar sistem) ke satu backoffice (ruang kerja dan data di belakang layar, beda dari front end yang dilihat publik) pusat di Caka Group. Dari situ baru terhubung ke tujuh modul kerja dan ke Claude untuk analisa lewat chat.

Sumber Data
Jurnal, Shopee, TikTok, Meta, website tiap unit bisnis, OTA eksternal
API Custom
Penghubung data antar sistem
Backoffice Caka Group
Data terpusat seluruh unit bisnis
Terhubung Claude
Tanya jawab lewat chat AI
Modul SDM
Modul Stok
Modul Aset
Modul Marketing
Modul CRM
Modul Ekspor & Pabrik
Modul OTA Sync

Modul CRM bukan soal koordinasi direksi, tapi database kontak seluruh pihak yang terhubung dengan Cau Chocolates, baik itu supplier, distributor, customer, maupun mitra lain. Modul Ekspor & Pabrik versi awal berupa form inquiry sederhana di cauchocolatesbali.com untuk calon buyer yang mau request sample atau factory visit, alat kerja yang lebih lengkap untuk tim pabrik menyusul di tahap berikutnya.

Cara kerja booking dan OTA, dijelaskan sederhana OTA singkatan dari Online Travel Agent, platform pemesanan seperti Tabanan Hub. Sinkronisasinya sekarang dibangun sebagai modul tersendiri langsung di dashboard Caka Group, bukan dititip ke sistem terpisah. Modul OTA Sync ini terhubung ke Google Calendar yang sama dipakai semua OTA, termasuk Tabanan Hub, supaya jadwal di berbagai platform tidak saling tabrakan. Sistem booking dan pembayaran langsung untuk DCB dan Cocoland dibangun dengan referensi dari Tabanan Hub yang sudah pernah dibuat sebelumnya, lalu terhubung ke modul OTA Sync ini, jadi availability yang ditampilkan di Caka Group selalu selaras dengan yang ada di platform lain.
Bagian 04

Peta Enam Website

Tiga unit bisnis sudah punya domain sendiri, tapi front end dan backoffice-nya akan dibangun ulang total. Ditambah sistem booking dan pembayaran yang baru, serta backoffice Caka Group yang menyatukan semuanya.

Dibangun ulang

cauchocolatesbali.com

Domain sudah ada, front end dan backoffice-nya dibangun ulang, konten dipindah dari website lama. Front end memuat form B2B dan ekspor, order sample dan factory visit. Backoffice berisi modul self service SDM, ditambah modul khusus tim pabrik dan tim ekspor.

Dibangun ulang

desacoklatbali.com

Domain sudah ada, front end dan backoffice-nya dibangun ulang, konten dipindah dari website lama. Fitur utama yang ditambahkan adalah booking langsung dengan pembayaran terintegrasi.

Dibangun ulang

cocoalandbali.com

Domain sudah ada, front end dan backoffice-nya dibangun ulang, konten dipindah dari website lama, lalu disambungkan ke sistem booking dan pembayaran di bawah.

Dibangun baru

Booking & Pembayaran DCB/Cocoland

Sistem booking langsung dengan referensi dari Tabanan Hub yang sudah pernah dibuat sebelumnya, tanpa konsep banyak merchant karena ini khusus untuk Caka Group sendiri. Terhubung ke Modul OTA Sync di backoffice, supaya availability selalu selaras dengan platform lain.

Dibangun baru

Backoffice Caka Group

Pusat data dari seluruh unit bisnis, Cau Coklat, DCB, Cocoland, dan Caulicious. Dari sini data terhubung ke Claude, supaya tim cukup bertanya lewat chat untuk dapat jawaban langsung dari database.

Dibangun baru

Coklat Community

Etalase digital untuk menggaet investor, menyajikan rekam jejak revenue, strategi pemasaran yang sudah berjalan, dan aset yang dimiliki Caka Group secara matang dan terstruktur, sehingga proses meyakinkan calon investor menjadi lebih efisien.

Bagian 05

Lapisan AI

Backoffice Caka Group menjadi satu database lengkap dari seluruh aktivitas bisnis, mulai dari Cau Coklat, DCB, Cocoland, sampai Caulicious. Database ini yang akan diintegrasikan dengan Claude, sehingga tim dan direksi cukup bertanya lewat chat untuk dapat jawaban langsung dari data yang ada.

"Siapa sih pelanggan saya yang terbesar di Cilacap, berapa dia udah datengin saya barang, nilai volumenya berapa, kan dia akan jawab." Bli Surya, membayangkan cara kerja sistem ini
Akses dibatasi Akses penuh ke seluruh data Caka Group lewat Claude hanya diberikan kepada CEO, bukan ke tim lain, karena sifatnya rahasia. Tim lain tetap memakai modul dan data sesuai perannya masing masing seperti yang dijelaskan di Bagian 03, tapi tidak punya akses ke gabungan data lintas perusahaan secara utuh.
Yang Bisa Dilakukan

Menjawab pertanyaan langsung soal pelanggan, omzet, dan volume, langsung dari database Caka Group. Menyiapkan poin penting otomatis sebelum ketemu investor, dalam bentuk PDF, Google Doc, Excel, atau materi presentasi. Update otomatis masuk ke email. Untuk dashboard marketing, tim cukup input progress dan outcome di setiap rencana, sehingga Bli Surya bisa langsung tanya cara menaikkan angka, bukan lagi menanyakan laporan dari nol.

Sudah Ada Buktinya

Pola serupa sudah diterapkan di AUM dalam skala lebih kecil, fokus ke data ROAS untuk menaikkan omzet. Ini jadi bukti konsep bahwa pendekatan yang sama bisa diperbesar untuk seluruh Caka Group, hanya saja kompleksitasnya jauh lebih tinggi karena melibatkan empat sampai lima perusahaan sekaligus.

Bagian 06

Roadmap Implementasi

Empat pertemuan berikut perlu dilakukan lebih dulu sebelum masuk ke tahap build, tanggal pastinya menyusul. Lima fase berikutnya adalah urutan kerja logis yang perlu dikonfirmasi ulang setelah proses discovery di lapangan selesai.

Validasi Internal

Meeting dengan Direksi

Review dan validasi master plan ini secara keseluruhan, termasuk keputusan soal sistem booking dan pembayaran yang baru, sebelum lanjut ke tahap berikutnya.

Lapangan

Meeting dengan Tim Gudang

Pendalaman teknis modul Stok dan Aset bersama Arya dan Wayan, termasuk kunjungan langsung ke gudang dan pabrik untuk memetakan checkpoint secara presisi.

Lintas Tim

Meeting dengan Seluruh Tim Marketing

Pendalaman kebutuhan modul Marketing dan Dashboard Eksekutif bersama Nyoman, Gede Dika, dan tim terkait, termasuk integrasi data dari Shopee, TikTok, dan Meta.

Transisi Sistem

Meeting dengan Developer Lama

Koordinasi dengan developer yang menangani website dan sistem yang sudah berjalan, supaya transisi data dan akses berjalan mulus tanpa mengganggu operasional.

01

Discovery

Kunjungan langsung ke gudang dan pabrik, ngobrol teknis dengan staf POS dan konsinyasi, untuk memetakan checkpoint stok dan parameter aset secara presisi.

02

Build Modul Inti

SDM self service, Aset barcode dan lelang, Stok per checkpoint, Marketing dashboard, CRM kontak supplier dan distributor, modul ekspor dan pabrik, serta OTA Sync, dibangun sebagai modul terpisah dulu.

03

Integrasi

Tujuh modul disatukan ke backoffice Caka Group lewat API, ditarik dari Jurnal dan website tiap unit bisnis. Ini titik di mana helicopter view mulai terwujud.

04

Lapisan AI & Investor

Aktifkan query AI, bangun Coklat Community dan dashboard investor di atas fondasi data yang sudah terhubung.

05

Replikasi ke Brand Lain

Pola yang sama diterapkan ke Cocoland, DCB, dan Caulicious, dengan tampilan depan yang disesuaikan masing masing. Sistem booking dan pembayaran untuk DCB dan Cocoland dibangun di fase ini, lalu disambungkan ke backoffice Caka Group lewat data kalender yang sama dipakai untuk sinkron OTA.

Bagian 07

Matriks Kepemilikan

Supaya tidak ada area yang jatuh di antara dua kursi, berikut siapa memegang apa.

AreaPenanggung Jawab
SDMBagus
StokArya, Kepala Gudang
Aset TetapWayan
Data MarketingNyoman & Gede Dika
Sistem Digital & WebsiteAng, Tim Expert Web Export & Digital
Konten Foto & VideoCahya, dengan arahan Bli Surya
Akuntansi & POS Lintas BrandPak Dedi, CEO PT CEO
Bagian 08

Langkah Selanjutnya

01

Konfirmasi master plan ini

Review bersama Bli Surya dan direksi, termasuk batasan akses data dan rencana sistem booking yang baru.

02

Jalankan empat pertemuan awal

Direksi, tim gudang, tim marketing, dan developer lama, sesuai daftar di atas, tanpa menunggu seluruh master plan final.

03

Mulai proses discovery

Kunjungan lapangan ke gudang dan ngobrol dengan staf terkait, supaya modul Stok dan Aset bisa dirancang berdasarkan kondisi nyata, bukan asumsi.